Cara Mengatasi kemacetan di Yogyakarta



Terinspirasi dari sebuah diskusi di ruang kuliah tentang kemacetan, khususnya di yogyakarta. Menarik untuk dibahas. Orang dari berbagai profesi setiap hari pasti melakukan aktivitas yang tentu saja menggunakan kendaraan. Yang mana merasa terganggu dengan kemacetan itu.

Semua punya pendapat sendiri-sendiri menanggapi kemacetan ini. Ada yang menganggap bahwa pengguna jalan sebagai penyebabnya. Aturan-aturan lalu lintas sering diabaikan, kendaraan yang tidak memenuhi kelaikan. Karena terkadang para pengendara kendaraan bermotor itu tidak semua paham betul mengenai aturan lalu lalu-lintas. Asal mengerti ketika lampu merah harus berhenti saja sudah cukup untuk bisa naik kendaraan di jalan raya. Belum lagi mereka yang masih dibawah umur. Baru di jenjang SMP sudah ke sekolah dengan naik motor. Padahal jelas mereka belum memenuhi syarat untuk mendapat surat ijin mengemudi.

Ada juga yang bilang karena parkir sembarangan memakan badan jalan. Ini benar juga karena parkir ini memang menjadi masalah tersendiri. Para pelaku usaha kurang memperhatikan tentang masalah parkir ini. sepertinya memang perlu sebuah aturan khusus tentang ini. Mungkin semacam kewajiban membangun lahan parkir untuk setiap yang mendirikan tempat usaha.

Juga bangunan-bangunan yang terlalu dekat dengan jalan, coba sana cek Hotel tentrem. Sempet isunya dulu sih melanggar AMDAL, kurang jelas juga kenapa akhirnya adem-adem saja.  Sebelum kesana-kesini nggak jelas, saya tidak akan membahas tentang parkir dan amdal yang pusing itu. mungkin kasih saran aja mengenai trik untuk menghindari kemacetannya jogja.
Khusus untuk jogja sebenernya kalau saya melihat belum terlampau parah, dalam arti masih banyak solusi untuk mengatasi kemacetan. Di yogya sendiri kemacetan biasanya hanya terjadi di jam dan lokasi tertentu.

Pertama di sekitar pusat Kampus, jogja adalah gudangnya kampus. Kampus-kampus ini setiap tiap tahun menerima mahasiswa baru dan perbandingan antara mahasiswa yang masuk dan keluar itu tidak sebanding, katakanlah sebuah jurusan menerima mahasiswa 50 orang dalam satu tahun. Kalau mahasiswa yang lulus hanya 20 orang sedangkan rata-rata mahasiswa lulus dalam jangka waktu 4 tahun. Berarti ada ada sekitar 180 orang dalam satu jurusan. Dan itu baru satu jurusan belum fakultas apalagi satu universitas. Ditambah untuk mengurusi mahasiswa segitu banyak  tentu juga dibutuhkan karyawan yang tidak sedikit bayangkan di salah satu universitas ada sekitar 60ribu orang karyawan dan mereka semua turun dijalan bersama-sama.  Jalan C Simanjuntak, Jalan Prof Yohanes dan jalan kaliurang adalah titik kepadatan kendaraan. Macetnya ini hanya berlangsung pada jam-jam tertentu saja. Hindari daerah ini pada jam 4-5 sore.

Untuk yang Kedua adalah pusat perbelanjaan, jalan solo dan malioboro. Kalau ndak penting-penting amat mending nyari jalan yang lain saja. Terutama pada akhir pekan, jalan jalan yang menjadi akses ke sini biasanya menjadi padat sekali. dai arah barat. jalan godean, jalan wates. kemududian dari selatan jalan parangtritis menuju jalan. Jalan laksda Adi sucipto juga sering mengalami kemacetan. Ini sangat padat ketika akhir pekan atau lburan sekolah.

Ketiga adalah jalur keluar kota jalan Wates dan jalan magelang adalah daerah yang rawan macet. akhir pekan merupakan puncak kepadatan kendaraan.

Tidak setiap hari Yogya macet seperti kemacetan di kota-kota besar dan industri. hanya sebagian saja dan juga waktu tertentu. Meskipun cukup mengganggu tapi tidak mengurangi kenyamanan di Yogya.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk " Cara Mengatasi kemacetan di Yogyakarta "

Post a Comment